Dosennya Terlalu Baik

Saya masih ingat, tanggal 4 Oktober 2009, saya mengirim sms kepada orang tua, adik, dan beberapa teman SMA saya yang kurang lebih isinya seperti ini:
“Assalamu’alaikum. Nyuwun dongane ya, kuliah neng fasilkom tugase akeh nemen, materine ya angel dipahami. Semoga bisa olih IP > 3.5. Suwun ya”

Jari-jari saya seolah tanpa sadar mengetik sms tersebut dan mengirimnya ke banyak orang akibat shock culture di Fasilkom.

Saya pun masih ingat, tanggal 21 November 2009, saya meng-update status saya, kira kira seperti ini:
“Terapkan prinsip yang dulu. pesimis, tidak peduli, dan disorientasi akademis”
Read more »

Digimon, Anime Favorit Saya

Dari sekian postingan yang saya tulis, mungkin ini yang paling gak penting. Entah kenapa tiba-tiba jadi inget dulu nih, pas jaman SD. Waktu saya kelas 4, saya sangat suka sekali sama serial anime Digimon (Digital Monster) Adventure. Kisahnya tentang tujuh anak yang terperangkap di dunia digital. Dunia digital ini hampir mirip seperti dunia manusia, cuma berbeda waktunya saja. Masing-masing anak lalu bertemu dengan monster digital (yang bisa berevolusi) yang menjadi partner sepanjang petualangan mereka. Ketujuh anak itu harus menyelamatkan dunia digital dari kehancuran oleh para digimon jahat. Sungguh, dulu saya sangat menyukai anime ini, dan menantikannya setiap hari Minggu di Indosiar pukul setengah delapan pagi.
Read more »

Buat para Tegal-ers^

Parade Tegal Arum

July 13, 2009

After all my business at UI’s dormitory had done, at  12.15 I went to UI railway station immediately.  I used KRL ekonomi AC to Jakarta Kota station. About an hour on the way then I arrived there. Soon, I bought Tegal Arum ticket cost 15 thousand rupiahs. I thought it is very cheap, compared with Kaligung ticket which cost 25 thousand, just reach Semarang.

KA Tegal Arum had been on its base at that biggest railway station in Jakarta since 13.00. After the ticket was in my pocket, I walked quickly to platform 9, afraid of unable get a seat. I moved in second coach from the end of the train. Fortunately, I got a seat.

Read more »

Intermezo, hihihi

it means ‘my brother’

Munich, 2009. Allianz Arena sudah dipenuhi oleh para penonton yang akan menyaksikan pertandingan antara  tuan rumah Bayern Munich melawan Werder Bremen. Di salah satu bangku penonton, Supri (asal Tegal) memperhatikan lelaki berusia sekitar 30 tahunan yang duduk di sampingnya. Nampaknya lelaki itu teman SMA nya dulu di Tegal. Yap, tidak salah lagi lelaki itu teman se-gengnya dulu yang suka nongkrong bareng. Untuk memastikan, Supri menyapa laki-laki yang perhatiannya masih tertuju ke arah lapangan itu.

“excuse me, are you Udin?”

Yang dipanggil Udin langsung menoleh.
Read more »

Ngeblog Lagi yuuk

Kita Lihat Saja Nanti

Di suatu negeri, hidup seorang petani dan anak laki-lakinya. Karena sedang musim kemarau, dan sawahnya tidak menghasilkan apa-apa, si petani pergi berburu. Akan tetapi, ia tidak mendapat seekor tangkapan pun. Melihat si petani pulang dengan tangan kosong, seorang Tetangganya berkata, “kasihan sekali kau, sudah berburu sampai senja, tidak mendapat apa pun.”

Si petani hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Esok harinya, tiba-tiba ada seekor kuda yang kelaparan di depan rumah si petani. Petani segera memberinya makan dan memasukkannya ke dalam kandang.

Tetangganya berkata, “wah, enak sekali kau, tiba-tiba ada kuda ke rumahmu. Kau bisa memanfaatkannya untuk pergi berburu agar lebih cepat mendapat tangkapan.”

Si petani dengan senyum menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Petani dan anaknya merawat kuda tersebut dengan sangat baik. Tiap hari mereka memberinya makan. Dengan menunggang kuda tersebut, petani bisa menangkap buruan lebih cepat.

Seminggu kemudian, tiba-tiba kuda itu kabur dari kandangnya. Tetangganya berkata, “kasihan kau, sudah kau rawat baik-baik, kuda itu malah kabur, hahah.”

Petani pun hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Esok harinya, terdengar suara gemuruh mendekati rumah petani. Setelah dilihat, ternyata kuda yang dulu mereka rawat sedang berlari menuju rumah petani bersama puluhan kuda lain. Petani dan anaknya senang sekali.

Tetangganya langsung berkata, ”wah, betapa bahagianya kau, kuda yang kau rawat kembali lagi dengan membawa teman-temannya. Kau pasti akan beralih profesi sekarang jadi peternak kuda, dan bisa punya uang banyak.”

Meski begitu, petani lagi-lagi menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Keesokannya, anak laki-laki petani menunggang salah satu kuda dan bermain-main di ladang. Tiba-tiba anak itu jatuh dari kuda yang sedang berlari kencang. Kakinya patah.

Tetangganya berkata kepada si petani, “kasihan sekali anakmu, mungkin dua atau tiga tahun lagi baru bisa jalan.”

Si petani hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Hari berikutnya, tersiar kabar dari pusat bahwa saat ini negeri dalam keadaan perang. Setiap pemuda berumur 18-25 tahun, dikenakan wajib militer dan harus ikut ke medan pertempuran. Si tetangga berkata kepada petani, “putraku dan putramu harus ikut perang besok, apakah kau rela?”

Si petani menjawab, “sayang sekali, bukankah kau tahu kalau putraku tidak bisa berjalan, maka dia tidak harus pergi.”

Dua tahun kemudian, perang telah usai. Negeri itu kembali damai. Anak laki-laki petani pun sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Akan tetapi, anak laki-laki tetangganya telah mati di medan perang.

Diceritakan oleh M.Aris Furqon (FKG UI 2009).

Di akhir ceritanya, Aris bertanya kepada saya, “koen ngarti ora, apa hikmah crita nang nduwur?”