23
Jul
09

Buat para Tegal-ers^

Parade Tegal Arum

July 13, 2009

After all my business at UI’s dormitory had done, at  12.15 I went to UI railway station immediately.  I used KRL ekonomi AC to Jakarta Kota station. About an hour on the way then I arrived there. Soon, I bought Tegal Arum ticket cost 15 thousand rupiahs. I thought it is very cheap, compared with Kaligung ticket which cost 25 thousand, just reach Semarang.

KA Tegal Arum had been on its base at that biggest railway station in Jakarta since 13.00. After the ticket was in my pocket, I walked quickly to platform 9, afraid of unable get a seat. I moved in second coach from the end of the train. Fortunately, I got a seat.

This Tegal Arum is really the citizen train. Especially, really belongs to Tegal people I think. Everyday, this 12 coaches train carries traders, students, employers, tourists, even job searchers from Tegal to Jakarta and also otherwise. From Tegal, the train starts move at 06.00, arrives Jakarta at 13.00. From Jakarta, the train goes at 15.00, arrives Tegal about nine .

The atmosphere inside this crowded train definitely different with outside. Within Tegal Arum, there were no more sounds like ‘Lo-Gue’ or ‘saya-Anda’. There were just  ‘kula-panjenengan’ or  ‘enyong-koen’ users, even ‘remu’ users. Yup, people talked each other used Tegalnese, their beloved language.

This train is like ‘moving market’. Why? Because every time, every second along the journey, I always heard traders shouted, offered their stuffs. They walked forward, moved back, all the time while marketing. So many kinds of traders inside. There are drink and food seller, CD seller, toys seller, stationary seller, manual fan seller, newspaper seller, even singing beggar. Beside crowded, the train was so noisy.

Here some scenes inside the train that I remember. May be you can get the preview of the train looks like nowadays.

Scene 1,

The crowded train was moving. An old woman looked in hurry, walked to the toilet. She asked to an unseated man.

“WC ne bisa dienggo?”

“Ora Bu.” Replied the unseated man.

“Sih bisane? Laka banyune?”

“Banyu ta gampang, gari nggawa aqua. Masalahe, wong-wong pada ndokon barang-barange nang WC. Deleng bae oh, ana ban, pipa, karo pit!!!”

Scene 2,

“Pecel, peceelll! Pecele Wak gambreeeng! Olih ngutang!!” an old woman sold her ‘pecel’.

People, “temenan???”

Wak gambreng, “Olih ngutang, rong menit bayar!!! ;D”

People, “karepe dewek tok…”

Scene 3,

ZZzzzzz….. I slept well :P

Scene 4,

A man and his friend brought a lot of stuffs. Then, they sat in front of me. The man asked to his friend,

“koen ora ngelih?”

“Ora ah, wetenge lagi ra enak.”

“belet ngising?”

“rada sih, tapi pime maning, WC ne ra bisa dingo.”

“nyekel watu bae sing kenceng! Jare wong tua bisa nggo nahan belet.”

“ader??”

Scene 5,

While walking, a CD’s seller put some CD (not original I think) on my thigh. He did it in order to promote his stuffs, so that we could choose which we want. Most of them are MP3. Not so long, the seller came back to take his CD. He asked to a man in front of me, (NOT to me)

“BF? Ana oh, kyeh…” while showing porn CD.

“heh? Ora!” answered the man.

“temenan? Aja elom loh!! Ngko kamitenggengen! Haha”

Scene 6,

A man in front of me stopped the book seller.

“tuku sing endi? Rong ewu ana sing isine siji, ana sing loro” the book seller showed some very thin books.

“I take this one.” Paid, and took the book.

I got curious of what kind of book he bought. After he finished reading, I borrowed it. I read the title, ‘TABIR MIMPI: ARTI KEDUTAN, BULAN LAHIR, DAN KEJADIAN LAINNYA’

(Useless book I think)

Scene 7,

Suddenly I heard an old woman said loudly to a 10 yrs old boy,

“koen dewekan maring Jakarta? Ora wedi?”

“wis biasa bu” replied the boy.

“bapa ibune koen nang endi? Ora nggoleti?”

“nang umah, neng Tanjung.”

“pentol nemen sih, ora wedi. Mesti koen bocah MBLATANG!”

Scene 8,

It was already night. I was very hungry. then I heard a seller shouted,

“nasi goreng bungkus! Pake telor, tiga ribuan!”

I stopped the seller, and bought that 3000 fried rice. Before I opened its wrap, a man in front of me said to me,

“aku ta ora biasa tuku panganan neng nduwur sepur. Es teh sewunan, dewek beleh ngarti banyune mentah apa mateng. Sega goreng kaya kue, ora ngerti bahan-bahane apa. Apa maning nganggo endog. Neng darat be regane ora nganti murah semono.”

“ora papa lah, ngelih nemen. Nggo ganjel weteng tok um.” I replied.

Then I opened the wrap, started eat. The fried rice was salty, but not bad. There were ‘dadar’ egg inside. But, wait! It was not egg! I watched it closer. It was flour! The flour that was modified like ‘dadar’ egg!

23
Jul
09

Intermezo, hihihi

it means ‘my brother’

Munich, 2009. Allianz Arena sudah dipenuhi oleh para penonton yang akan menyaksikan pertandingan antara  tuan rumah Bayern Munich melawan Werder Bremen. Di salah satu bangku penonton, Supri (asal Tegal) memperhatikan lelaki berusia sekitar 30 tahunan yang duduk di sampingnya. Nampaknya lelaki itu teman SMA nya dulu di Tegal. Yap, tidak salah lagi lelaki itu teman se-gengnya dulu yang suka nongkrong bareng. Untuk memastikan, Supri menyapa laki-laki yang perhatiannya masih tertuju ke arah lapangan itu.

“excuse me, are you Udin?”

Yang dipanggil Udin langsung menoleh.

“jyahh, koen Sup! Rai mu lagi apa nang kene?! Ra sah nggaya nganggo inggrisan lah!!”

“Remmuu! Donge aku sing takon kaya kue o bol!!” jawab Supri keras.

“honey, this is my friend from Indonesia, Supri” Udin memperkenalkan Supri kepada istrinya yang asli Jerman.

“I’m Supri, Nice to meet you” Supri langsung menjabat tangan istri Udin.

“I’m Lenallee, nice to meet you too” jawab istri Udin sambil menjabat tangan Supri dengan senyuman.

“izh, koen jos nemen ah, bisa olih wadon bule, hahahaha”

Supri dan Udin kemudian berbincang-bincang tentang alasan mereka di Jerman, apa pekerjaan masing-masing, dan sebagainya. Tentunya dengan bahasa Tegal, bahasa asal kota kelahiran mereka.

Lenallee yang terus memperhatikan dua orang itu berbincang, merasa bingung dengan cara mereka berbicara. Dia merasa kalau percakapan mereka seperti layaknya orang yang mau berkelahi, penuh logat kasar. Tapi herannya, Supri dan udin selalu tertawa hangat di sela-sela percakapan. Karena penasaran sesuatu, Lenallee menyela, bertanya kepada suaminya,

“excuse me, you often say ‘remu’. At first, you both also said hi with that word harshly, what does it exactly mean?”

Dengan tenang Udin menjawab,

“remu means ‘my brother’.”

“right, my brother?” Tanya Udin sambil menepuk pundak Supri.

Udin dan Supri tertawa terpingkal-pingkal.

Tegal, 27 Juni 2009. Crita ngawag, Sekedar intermezzo, hehehe

Nyong bangga dadi wong Tegal :)

23
Jul
09

Ngeblog Lagi yuuk

Kita Lihat Saja Nanti

Di suatu negeri, hidup seorang petani dan anak laki-lakinya. Karena sedang musim kemarau, dan sawahnya tidak menghasilkan apa-apa, si petani pergi berburu. Akan tetapi, ia tidak mendapat seekor tangkapan pun. Melihat si petani pulang dengan tangan kosong, seorang Tetangganya berkata, “kasihan sekali kau, sudah berburu sampai senja, tidak mendapat apa pun.”

Si petani hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Esok harinya, tiba-tiba ada seekor kuda yang kelaparan di depan rumah si petani. Petani segera memberinya makan dan memasukkannya ke dalam kandang.

Tetangganya berkata, “wah, enak sekali kau, tiba-tiba ada kuda ke rumahmu. Kau bisa memanfaatkannya untuk pergi berburu agar lebih cepat mendapat tangkapan.”

Si petani dengan senyum menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Petani dan anaknya merawat kuda tersebut dengan sangat baik. Tiap hari mereka memberinya makan. Dengan menunggang kuda tersebut, petani bisa menangkap buruan lebih cepat.

Seminggu kemudian, tiba-tiba kuda itu kabur dari kandangnya. Tetangganya berkata, “kasihan kau, sudah kau rawat baik-baik, kuda itu malah kabur, hahah.”

Petani pun hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Esok harinya, terdengar suara gemuruh mendekati rumah petani. Setelah dilihat, ternyata kuda yang dulu mereka rawat sedang berlari menuju rumah petani bersama puluhan kuda lain. Petani dan anaknya senang sekali.

Tetangganya langsung berkata, ”wah, betapa bahagianya kau, kuda yang kau rawat kembali lagi dengan membawa teman-temannya. Kau pasti akan beralih profesi sekarang jadi peternak kuda, dan bisa punya uang banyak.”

Meski begitu, petani lagi-lagi menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Keesokannya, anak laki-laki petani menunggang salah satu kuda dan bermain-main di ladang. Tiba-tiba anak itu jatuh dari kuda yang sedang berlari kencang. Kakinya patah.

Tetangganya berkata kepada si petani, “kasihan sekali anakmu, mungkin dua atau tiga tahun lagi baru bisa jalan.”

Si petani hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”

Hari berikutnya, tersiar kabar dari pusat bahwa saat ini negeri dalam keadaan perang. Setiap pemuda berumur 18-25 tahun, dikenakan wajib militer dan harus ikut ke medan pertempuran. Si tetangga berkata kepada petani, “putraku dan putramu harus ikut perang besok, apakah kau rela?”

Si petani menjawab, “sayang sekali, bukankah kau tahu kalau putraku tidak bisa berjalan, maka dia tidak harus pergi.”

Dua tahun kemudian, perang telah usai. Negeri itu kembali damai. Anak laki-laki petani pun sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Akan tetapi, anak laki-laki tetangganya telah mati di medan perang.

Diceritakan oleh M.Aris Furqon (FKG UI 2009).

Di akhir ceritanya, Aris bertanya kepada saya, “koen ngarti ora, apa hikmah crita nang nduwur?”

23
Nov
08

TCo_Smansagal

 

Kelas Saya

 

Ada perbedaan yang saya rasakan di “dunia kecil” yang satu ini jika dibandingkan dengan Halaqah saya. Cinta dan kasih sayang yang saya rasakan berbeda dengan di halaqah. Di kelas saya, kadang terjadi perselisihan di antara teman-teman. Kadang ada sakit hati yang terjadi. Kadang ada iri hati yang tersimpan. Kadang pula ada dendam yang terpendam. Seringnya malah tidak ada rasa peduli satu sama lain, keegoisan, dan rendahnya frekuensi senyuman kepada anggota kelas yang lain. Bahkan hanya sedikit suara “Assalamu’alaikum” yang saya dengar.

 

Memang, ada anggota kelas yang menjunjung tinggi satu hal bernama ‘persahabatan’. Mereka mencoba membuat suatu keadaan akrab dalam satu lingkungan kelas. Seperti sekedar memberi nama komunitas kelas, penyeragaman ID, atau hal-hal lain yang berintikan kebersamaan. Namun kemudian ada suatu kehampaan di saat kebersamaan itu bingung menentukan tujuan sesungguhnya.

 

It’s just a little critic for Tco . . .

23
Nov
08

Artikel November

Halaqah Saya

“…di sini saya menemukan mereka. Mereka yang bukan siapa-siapa. Tapi mereka selalu mengucap “Assalamu’alaikum” bila bertemu dengan saya atau dengan ikhwah yang lain. Mereka kemudian saling berjabat tangan, atau bahkan saling berpelukan. Dan itu semua dilakukan dengan tetap mempertahankan senyum terkembang dari wajah mereka.”


“…momen satu minggu sekali itu membuat iman saya menjadi kembali naik setelah terjadi degradasi dalam jangka waktu enam hari…”


Itulah “dunia kecil” yang saya rasakan begitu indah dengan Islam sebagai way of life-nya. Yang mengharuskan saya berwajah ceria dan bersemangat meski masalah dihadapan saya. Saya paksakan diri saya untuk senyum kepada mereka, yang memang pantas mendapat berbagai apresiasi, meski sekedar senyuman. Mereka tak pernah iri kepada saya, tak pernah merasa lebih baik dari siapapun, tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak untuk menyakiti saya. Di antara saya dan mereka hanyalah cinta dan kasih sayang, yang insya Allah berlandaskan cinta kepada Allah swt.


Setiap kami bertemu, selalu, selalu ada senyuman, dan canda. Ketika salah satu di antara kami ada yang mendapat kesulitan, yang lain pasti berusaha membantu dengan sepenuh hati. Ketika salah satu merasakan kegembiraan, yang lain juga akan mencoba dan mengharuskan diri untuk merasakan kegembiraan tersebut. Tak pernah ada permusuhan. Yang ada hanyalah kejujuran, keterbukaan, saling menghargai, tolong-menolong, kerja sama, apresiasi, empati, ketaatan, kesabaran, dan ketaqwaan kepada Allah Swt.


Dengan beranggotakan kurang lebih 12 orang, kami mencoba belajar tentang Islam. Tentu saja dengan seorang Murabbi (ustadz) yang membimbing kami, kami mencoba istiqomah. Mengontrol akhlak kami, mengevaluasi amaliyah yaumiyah kami yang masih jauh dari kesempurnaan. Mencoba menjalankan perintah-perintah Allah yang terkandung dalam Al-Qur’an dan melaksanakan sunnah-sunnah yang dicontohkan Rasulullah Saw.


In its purest sense, a halaqah is a social gathering where one comes to learn more about Islam and Islamic ways. . .

16
Nov
08

Sastra November

Proposal

 

            Dengan badan agak sedikit membungkuk, Reza memasuki ruang kepala sekolah. Dia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Bapak Kepala Sekolah karena memang sudah dipersilakan sebelumnya. Reza pun segera mengutarakan maksudnya menemui Kepala Sekolah sambil menyodorkan map berisi proposal kegiatan.

            “Begini pak, kami siswa kelas XI sejumlah 20 orang, bermaksud mengikuti lomba vokal grup lagu-lagu daerah tingkat Karesidenan. Untuk itu, kami berharap supaya pihak sekolah memberi dukungan untuk kami. Ya.. paling tidak sedikit uang saku buat kami, Pak…”

            Pak Suroji yang diajak bicara masih membolak-balik beberapa lembar proposal yang Reza sodorkan. Beliau dengan cermat membaca membaca mata anggaran yang diajukan oleh para siswanya. Beliau setuju, karena sebagai Kepala Sekolah, beliau harus senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan atau lomba-lomba yang akan diikuti oleh para siswa. 

            “Baik, proposal ini saya setujui. Silakan nanti Mas Reza bisa mengambil dana kegiatan di Bu Yulisa selaku bendahara anggaran kesiswaan. Semoga mas Reza dan teman-teman bisa sukses di lomba vokal grup tersebut.” Selesai bicara, Pak Suroji langsung menandatangani jeda pada proposal tempat beliau harus membubuhi tanda tangan. Kemudian Reza mengucapkan terima kasih, berjabat tangan, dan beranjak ke luar. Tampak senyum di wajahnya.

            Tepat ketika Reza baru saja keluar dari ruang kepala sekolah, bel masuk seusai istirahat pertama berbunyi. Dia pun mempercepat langkahnya menuju ke kelas. Belum sempat ia sampai di kelasnya, XI IPA 3, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

Continue reading ‘Sastra November’

26
Oct
08

Opini Oktober 2008

Budaya Nge-Blog dan Menulis

Saya termasuk orang yang awam dalam urusan nge-blog dan menulis. Ilmu saya masih sangat sedikit untuk menjadikan blog saya ini begitu populer. Otak saya masih jendel dalam menemukan ide untuk saya tuangkan dalam tulisan saya. Saya pun tak berhenti belajar, mencoba melihat dan mendengarkan pendapat orang lain tentang bagaimana cara nge-blog yang baik. Bahkan pada kunjungan saya ke rumah kawan saya yang lulusan UI tadi malam, saya juga berbincang tentang Blog.

Setelah saya ngobrol dengannya, saya sadar bahwa sekarang adalah jamannya menulis. Untuk mengeluarkan pendapat dan mengkritik sesuatu, sudah bukan jamannya unjuk rasa atau demonstrasi. Pemikiran-pemikiran cerdas seseorang dituangkan dalam bentuk tulisan, dan dengan teknologi seperti sekarang, tulisan itu dimuat atau dipublikasikan dalam dunia maya internet. Tulisan itu kemudian dibaca oleh beribu orang dan menjadikan orang yang membacanya terpengaruh jika isi tulisan itu begitu cerdas.

Selain untuk mengeluarkan pemikiran cerdas seseorang, Blog lebih sering dimanfaatkan sebagai Buku Harian seseorang yang bisa dibaca siapa saja. Oleh karena itu, isi tulisan pada Blog lebih bersifat subjektif sehingga saat ini Blog belum bisa dijadikan sebagai referensi karya tulis atau makalah.

Bagaimanapun, saya masih butuh bantuan semua pihak untuk menambah ilmu saya dalam hal nge-Blog. ^-^

Jendel : susah berpikir

October 26th , 2008

***

26
Oct
08

Kota Tegal dan Demokrasi

Kota Tegal dan Demokrasi

Pagi tadi saya melangkahkan kaki saya menuju TPS (Tempat Pemungutan Suara) untuk memilih Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal untuk periode 2004-2009. Pemilihan ini adalah yang pertama bagi saya karena saya baru menginjak usia 17 tahun pada bulan Juli yang lalu. Sesampai di TPS, saya menyerahkan dahulu surat pemilihan kemudian duduk di tempat yang disediakan menunggu giliran dipanggil.

Sambil menunggu, saya terus berpikir siapa calon Wali Kota yang akan saya coblos. Di antara kelima calon yang terdaftar, saya hanya mengenal dua pasangan calon. Salah satu calon yang saya kenal bahkan pernah saya mintai bantuannya untuk kegiatan sekolah yang saya ketuai. Namun saya tetap masih bingung, siapa yang hendak saya pilih di antara kelima calon tersebut. Paling tidak, semuanya sudah punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan kota Tegal dan memperbaiki kekurangan-kekurangan wali kota Tegal sebelumnya, Pak Adi Winarso.

Pak Adi Winarso menjabat sebagai Continue reading ‘Kota Tegal dan Demokrasi’

26
Oct
08

My Study

Ke Mana Saya Harus Kuliah?

(Bag. 2)

Pukul setengah enam pagi tadi, saya dihubungi oleh kawan saya yang berkuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Entah karena rasa kangen atau ikatan emosional sekuat apa yang menyebabkan dia tiba-tiba tergerak menelepon saya yang bukan adik atau saudaranya. Melalui telepon genggam, dia bercerita tentang OSPEK nya di STAN selama satu minggu kemarin. Dia merasa senang sekali bisa belajar di sana , meski sebelumnya dia sudah merasa nyaman diterima di Fakultas Ekonomi UI. Kemudian dia bercerita banyak hal tentang enaknya kuliah di STAN, dan lingkungan pergaulan di sana yang senantiasa dapat mengontrol kita dan keimanan kita – yang sudah sering saya dengar dari orang lain.


Berbulan-bulan yang lalu saya ngobrol sedikit tentang STAN dengan saudara saya yang lulusan STAN dan sekarang bekerja di sebuah kantor Perpajakan di Jakarta. Belajar di STAN itu gratis, benar-benar gratis tanpa biaya kuliah. Kuliah hanya tiga tahun, kemudian diberi fasilitas untuk mendaftar CPNS (calon pegawai negeri sipil) Continue reading ‘My Study’

26
Oct
08

Opini Oktober 2008

Dunia Tak Seindah Surga

(Bag. 2)

Salah satu sifat orang yang punya kecerdasan emosi yang tinggi adalah semangat dalam melakukan sesuatu. Jika Anda selalu semangat, pekerjaan sulit bisa Anda selesaikan dengan cepat, dan tugas yang berat menjadi begitu mudah. Anda senantiasa menjadikan hari kemarin sebagai guru, dan bergairah dalam menghadapi hari esok, serta mempunyai visi yang jelas untuk masa yang akan datang. Semangat itu menjadikan hidup lebih terarah, harapan menjadi dekat, dan mimpi bisa menjadi nyata.

Tuhan memang sengaja menjadikan Dunia ini tak seindah surga. Anda selalu diberi oleh Tuhan sesuatu bernama ‘masalah’ setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik Anda hidup. Karena memang hidup ini butuh perjuangan, dan Tuhan menyukai hamba-Nya yang senantiasa berjuang. Namun apakah Anda berjuang sendirian ? Continue reading ‘Opini Oktober 2008′