Kita Lihat Saja Nanti
Di suatu negeri, hidup seorang petani dan anak laki-lakinya. Karena sedang musim kemarau, dan sawahnya tidak menghasilkan apa-apa, si petani pergi berburu. Akan tetapi, ia tidak mendapat seekor tangkapan pun. Melihat si petani pulang dengan tangan kosong, seorang Tetangganya berkata, “kasihan sekali kau, sudah berburu sampai senja, tidak mendapat apa pun.”
Si petani hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”
Esok harinya, tiba-tiba ada seekor kuda yang kelaparan di depan rumah si petani. Petani segera memberinya makan dan memasukkannya ke dalam kandang.
Tetangganya berkata, “wah, enak sekali kau, tiba-tiba ada kuda ke rumahmu. Kau bisa memanfaatkannya untuk pergi berburu agar lebih cepat mendapat tangkapan.”
Si petani dengan senyum menjawab, “kita lihat saja nanti.”
Petani dan anaknya merawat kuda tersebut dengan sangat baik. Tiap hari mereka memberinya makan. Dengan menunggang kuda tersebut, petani bisa menangkap buruan lebih cepat.
Seminggu kemudian, tiba-tiba kuda itu kabur dari kandangnya. Tetangganya berkata, “kasihan kau, sudah kau rawat baik-baik, kuda itu malah kabur, hahah.”
Petani pun hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”
Esok harinya, terdengar suara gemuruh mendekati rumah petani. Setelah dilihat, ternyata kuda yang dulu mereka rawat sedang berlari menuju rumah petani bersama puluhan kuda lain. Petani dan anaknya senang sekali.
Tetangganya langsung berkata, ”wah, betapa bahagianya kau, kuda yang kau rawat kembali lagi dengan membawa teman-temannya. Kau pasti akan beralih profesi sekarang jadi peternak kuda, dan bisa punya uang banyak.”
Meski begitu, petani lagi-lagi menjawab, “kita lihat saja nanti.”
Keesokannya, anak laki-laki petani menunggang salah satu kuda dan bermain-main di ladang. Tiba-tiba anak itu jatuh dari kuda yang sedang berlari kencang. Kakinya patah.
Tetangganya berkata kepada si petani, “kasihan sekali anakmu, mungkin dua atau tiga tahun lagi baru bisa jalan.”
Si petani hanya menjawab, “kita lihat saja nanti.”
Hari berikutnya, tersiar kabar dari pusat bahwa saat ini negeri dalam keadaan perang. Setiap pemuda berumur 18-25 tahun, dikenakan wajib militer dan harus ikut ke medan pertempuran. Si tetangga berkata kepada petani, “putraku dan putramu harus ikut perang besok, apakah kau rela?”
Si petani menjawab, “sayang sekali, bukankah kau tahu kalau putraku tidak bisa berjalan, maka dia tidak harus pergi.”
Dua tahun kemudian, perang telah usai. Negeri itu kembali damai. Anak laki-laki petani pun sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Akan tetapi, anak laki-laki tetangganya telah mati di medan perang.
Diceritakan oleh M.Aris Furqon (FKG UI 2009).
Di akhir ceritanya, Aris bertanya kepada saya, “koen ngarti ora, apa hikmah crita nang nduwur?”