Kota Tegal dan Demokrasi

Kota Tegal dan Demokrasi

Pagi tadi saya melangkahkan kaki saya menuju TPS (Tempat Pemungutan Suara) untuk memilih Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal untuk periode 2004-2009. Pemilihan ini adalah yang pertama bagi saya karena saya baru menginjak usia 17 tahun pada bulan Juli yang lalu. Sesampai di TPS, saya menyerahkan dahulu surat pemilihan kemudian duduk di tempat yang disediakan menunggu giliran dipanggil.

Sambil menunggu, saya terus berpikir siapa calon Wali Kota yang akan saya coblos. Di antara kelima calon yang terdaftar, saya hanya mengenal dua pasangan calon. Salah satu calon yang saya kenal bahkan pernah saya mintai bantuannya untuk kegiatan sekolah yang saya ketuai. Namun saya tetap masih bingung, siapa yang hendak saya pilih di antara kelima calon tersebut. Paling tidak, semuanya sudah punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan kota Tegal dan memperbaiki kekurangan-kekurangan wali kota Tegal sebelumnya, Pak Adi Winarso.

Pak Adi Winarso menjabat sebagai wali kota Tegal selama dua periode. Di mata masyarakat kota Tegal, pak Adi Winarso adalah sosok pemimpin yang ideal bagi Kota Bahari ini. Selama masa jabatannya, Beliau terbukti dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Kondisi perekonomian Tegal semakin maju. perdagangan dan kewirausahaan menjadi prioritas utama untuk memajukan Tegal – karena sebagian besar masyarakat Tegal adalah wiraswastawan. Laut yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pun beliau maksimalkan dengan membangun pelabuhan dan sarana bagi para nelayan kota Tegal.

Kemajuan terlihat di berbagai bidang. Pendidikan, seni, dan budaya kota Tegal juga semakin menunjukkan prestasinya sehingga kualitas sumber daya manusia kota Tegal pun bisa bersaing. Sistem tata kota di atur sedemikian rupa sehingga orang-orang bisa merasa nyaman berjalan – jalan di jalanan kota Tegal. Sarana dan prasarana infrastruktur juga terus disempurnakan sehingga menjadikan kota Tegal, laka-laka. Oleh karena itu, masyarakat sudah kadung percaya pada Pak Adi Winarso sebagai wali kota. Akan tetapi dengan perundang-undangan yang baru, menjadikan kota Tegal tidak bisa lagi dipimpin oleh Beliau.

Saya masih duduk menunggu dipanggil Ketua TPS. Saya mengamati orang-orang yang lebih dulu mencoblos. Di mata mereka terlihat harapan yang besar pada pasangan calon yang mereka coblos. Harapan agar kota Tegal bisa lebih baik lagi, harapan agar masyarakat Tegal bisa lebih makmur lagi. Kemudian terbesit dalam pikiran saya mengenai metode pemilihan di jaman sekarang yang umumnya menggunakan pengambilan suara terbanyak.

Pada jaman Kekhalifahan Islam di Timur Tengah, proses pemilihan Khalifah (pemimpin) dilakukan dengan cara penunjukkan oleh khalifah sebelumnya. Tidak hanya ditunjuk, pemilihan menggunakan sistem syuro , di mana semua orang atau melalui wakilnya menyampaikan pendapatnya tentang siapa yang ia pilih. Apa yang menjadi kekurangan calon pemimpin itu, dan apa yang menjadi kelebihannya dibahas sampai tuntas. Proses syuro itu dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama karena harus mempertimbangkan banyak hal. Hingga akhirnya ditentukan dan disepakati siapa yang menjadi khalifah adalah yang terbaik atau yang mempunyai kekurangan paling sedikit dibanding yang lain. Masyarakat kemudian senantiasa mendukung khalifah terpilih – meski tidak mendukung calon tersebut.

Di Indonesia, pemilihan dilakukan dengan cara pengambilan suara dari masyarakat, dan yang terbanyaklah yang menjadi pemenang. Dan tujuan dari penerapan Pilkada di Indonesia adalah agar seluruh masyarakat bertambah dewasa dan semakin paham esensi demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat…

Ketua TPS kemudian memanggil nama saya dan saya pun bergegas mengambil kertas bergambar kelima pasangan calon, langsung menuju bilik suara. Entah kenapa ketika saya hendak mencoblos, saya merasa takut, gemetar, dan khawatir. Mungkin karena ini pertama kalinya saya mencoblos, atau karena ada firasat lain yang menggoyahkan hati saya. Kemudian saya coba bulatkan tekad, dan dengan menyebut nama Tuhan, saya pun mencoblos gambar salah satu pasangan calon. Sama dengan masyarakat kota Tegal, saya pun berharap banyak pada Calon yang saya pilih.

Kadung : terlanjur

October 26th , 2008

***

One Response

  1. tyuZ keMaren qMu mLih cPah dUnc..???

    jGan biNgung2 maZ..
    kya di Bandung z bingung..
    he…

    eH,
    mO kuLiah di Stan aPh..??
    aPah di UI..???

    taR Lo kuLiah saMbil ngELezin b.Inggris waDh aNk2 SD/SMP z..
    qMu kaN b.ing’nya piNter..
    kYa sDaraQ juGa gTu,,
    kTAnya eNak teU..
    Lumayan Biar biSA waDh ngEbiayain kuLiah ndiRi,,
    pi Lo dy kuL d UI aMbil jRusan b.Belanda..
    dy juGa seRing ke keDutaan Belanda,,
    dLu juGa Lu2san sMansa..
    ia kYa qMu Lh piNter,,,
    hi…

    iaNk peNting taR Lo daH waKtunya waDh qMu mLih univeRsitas,
    jGan saMpe Lum aDa piLihan,
    taR maLah ga nyaMpe2..
    hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.