Sastra November

Proposal

 

            Dengan badan agak sedikit membungkuk, Reza memasuki ruang kepala sekolah. Dia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Bapak Kepala Sekolah karena memang sudah dipersilakan sebelumnya. Reza pun segera mengutarakan maksudnya menemui Kepala Sekolah sambil menyodorkan map berisi proposal kegiatan.

            “Begini pak, kami siswa kelas XI sejumlah 20 orang, bermaksud mengikuti lomba vokal grup lagu-lagu daerah tingkat Karesidenan. Untuk itu, kami berharap supaya pihak sekolah memberi dukungan untuk kami. Ya.. paling tidak sedikit uang saku buat kami, Pak…”

            Pak Suroji yang diajak bicara masih membolak-balik beberapa lembar proposal yang Reza sodorkan. Beliau dengan cermat membaca membaca mata anggaran yang diajukan oleh para siswanya. Beliau setuju, karena sebagai Kepala Sekolah, beliau harus senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan atau lomba-lomba yang akan diikuti oleh para siswa. 

            “Baik, proposal ini saya setujui. Silakan nanti Mas Reza bisa mengambil dana kegiatan di Bu Yulisa selaku bendahara anggaran kesiswaan. Semoga mas Reza dan teman-teman bisa sukses di lomba vokal grup tersebut.” Selesai bicara, Pak Suroji langsung menandatangani jeda pada proposal tempat beliau harus membubuhi tanda tangan. Kemudian Reza mengucapkan terima kasih, berjabat tangan, dan beranjak ke luar. Tampak senyum di wajahnya.

            Tepat ketika Reza baru saja keluar dari ruang kepala sekolah, bel masuk seusai istirahat pertama berbunyi. Dia pun mempercepat langkahnya menuju ke kelas. Belum sempat ia sampai di kelasnya, XI IPA 3, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

            “Reza!”

            Reza menoleh dan ia menemukan sosok yang memanggilnya, yang tak lain ialah Bu Sri. Reza segera melangkah mendekati Bu Sri.

            “Kamu bawa apa itu, Za?” tanya Bu Sri sambil menunjuk stopmap yang Reza pegang dengan tangan kirinya.

            “Oh, ini proposal, Bu…”

            “Proposal apa?”

            “Ini, proposal pengajuan dana untuk lomba vokal grup tingkat karesidenan.”

            “Lho, kok kamu tidak meminta persetujuan saya terlebih dahulu?”

            “Tadi Bapak kepala Sekolah baru saja menyetujuinya, Bu.”

            “Heh, kamu kan tahu, kalau setiap kegiatan di SMA ini yang menyangkut para siswa harus sepengetahuan dan dengan persetujuan saya, selaku Wakasek Urusan Kesiswaan.” Kata Bu Sri dengan sedikit emosi karena merasa bahwa Reza telah melangkahi jabatan Bu Sri.

            “Iya Bu, tapi kan proposal ini sudah disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Kepala Sekolah, jadi kan beres, Bu…”

            “Perlu kamu tahu ya, Bapak Suroji itu, mengira kalau kamu sudah konsultasi dengan saya dan proposal itu sudah saya setujui, karena memang aturannya setiap proposal dari siswa harus saya lihat, saya tanda tangani terlebih dahulu, baru kemudian Bapak Kepala Sekolah. Lagipula, Bapak Kepala Sekolah itu belum tentu paham seluk beluk siswa sekolah ini secara menyeluruh. Beliau juga tidak tahu berapa tepatnya anggaran untuk kesiswaan saat ini. Yang tahu cukup tidaknya anggaran untuk suatu kegiatan atau lomba-lomba semacam ini, hanya saya dan bendahara. Oleh karena itu, kamu harus berkonsultasi kepada saya, sehingga saya bisa menentukan berapa besar anggaran yang pas untuk lomba atau kegiatan kamu itu…”

            “Oh, begitu ya Bu…”

            “Dan karena saya telah mengetahui hal ini, saya berhak meminta Bu Yulisa supaya tidak mencairkan dana sepeser pun untuk lomba vokal grup kamu itu, karena kamu melangkah tidak sesuai prosedur dan telah menyalahi aturan.”

            “Kalau begitu, saya minta maaf Bu. Proposal ini akan saya ganti dan besok saya akan berkonsultasi kepada Ibu terlebih dahulu dan meminta persetujuan Ibu…”

            “Ya, begitu lebih baik. Saya tunggu besok pagi.” Bu Sri meninggalkan Reza, berjalan menuju ruang guru. Reza melangkahkan kaki menuju ke ruang kelasnya. Ia terlambat beberapa menit, mengikuti mata pelajaran Fisika, yang lumayan ia sukai.

***

            Istirahat pertama hari berikutnya, Reza menemui Bu Sri yang saat itu sedang duduk di meja guru piket di sebelah luar ruang kepala sekolah. Reza menyodorkan map berisi proposal yang sudah ia ganti kepada Bu Sri. Wakasek Urusan Kesiswaan itu dengan cermat membaca satu per satu bagian proposal tersebut, terutama pada bagian anggaran dana. Tiba – tiba mata Bu Sri agak terbelalak begitu melihat bagian lampiran yang berisi surat permohonan dana atau surat permohonan kepada orang tua murid atau masyarakat untuk membiayai lomba yang akan diikuti Reza dan teman-temannya itu.

            “Apa maksud surat ini?” tanya Bu Sri kepada Reza dengan nada suara tinggi sambil menyodorkan kembali proposal Reza.

            “Maksud kami, kami ingin supaya tidak hanya sekolah yang mendukung kami, tapi juga orang tua murid atau masyarakat. Barangkali ada yang mau menjadi donatur kan, lebih baik. Dengan dana yang lebih, kami juga menjadi semangat mengikuti lomba ini. Kami menjadi semangat latihan pagi sore setiap hari demi lomba ini. Kalau kami menang, sekolah ini juga yang bangga karena kami jelas-jelas membawa nama baik sekolah.” Jawab Reza tegas dan penuh percaya diri.

            “Kamu pikir, dengan dana satu juta lima ratus ribu dari sekolah, masih belum cukup? Lagipula, masih banyak mata anggaran yang tidak rasional dalam proposal ini. Kamu harus ingat kalau semua mata anggaran harus ada pertanggungjawabannya, sehingga harus masuk akal, tidak boleh dilebih-lebihkan maupun dikurangi dari jatah semestinya yang wajar. Perbaiki lagi proposal ini !” Perintah Bu Sri.

            Beliau kemudian merobek surat permohonan donatur tersebut dari proposal yang telah dijilid itu. Surat yang hanya satu lembar itu beliau robek-robek lagi menjadi bagian-bagian kecil. Reza hanya tersenyum kecut. Dia agak kesal, tetapi rasa kesalnya itu tidak ia tampakkan di hadapan Bu Sri. Sebagai Wakil Ketua I OSIS, dia harus tetap tegar menghadapi hal-hal semacam ini.

            Esok harinya, Reza sudah enggan untuk bertemu dengan Bu Sri. Ia meminta bantuan temannya, Hendri, untuk mengajukan proposal lomba tersebut. Hendri segera menemui Bu Sri, karena ia juga termasuk peserta lomba vokal group, dan ia pun sangat berharap supaya proposal itu bisa segera disetujui dan yang terpenting ialah agar dananya cepat cair. Beruntung, Bu Sri langsung menyetujuinya karena memang isi proposal tersebut sudah lebih baik dan mata anggaran yang diajukan pun sekarang lebih rasional. Kemudian Hendri bergegas menemui Bapak Kepala Sekolah yang untungnya tidak ada jadwal ke luar, sehingga Hendri dapat menemui beliau di meja kerjanya di ruang kepala sekolah. Proposal disetujui dan dana bisa dicairkan. Hendri dan Reza sangat senang.

***

            Dari tadi Bu Sri memperhatikan Reza yang nampak mondar mandir di depan ruang guru, sambil menggenggam stopmap warna merah di tangan kirinya. Terlintas dalam pikiran Bu Sri kenapa anak itu masih saja berkeliaran di luar kelas pada saat jam pelajaran pertama berlangsung seperti sekarang ini. Bu Sri tidak langsung berpikiran macam-macam, beliau hanya mengira mungkin dia masih sibuk mengurusi lombanya, atau saat itu tidak ada guru di kelasnya. Tapi pemandangan itu tidak berlangsung satu hari itu saja. Hari berikutnya, Bu Sri juga melihat Reza bolak-balik di depan ruang guru pada saat jam pelajaran pertama. Tak tahan dengan rasa penasarannya, Bu Sri memanggil Reza.

            Reza menghampiri Bu Sri, memasuki ruang guru, meski tampak rasa tidak enak pada raut wajahnya.

            “Saya lihat, dari kemarin kamu mondar mandir terus. Emang ada urusan apa?” Tanya Bu Sri.

            “Oh, saya dan teman teman mau latihan nyanyi Bu…”

            “Ada dispensasinya?”

            “Proposalnya kan sudah disetujui Bu, berarti kami harus berlatih semaksimal mungkin demi lomba ini kan, Bu…”

            “Ya, tapi tetap saja semua kegiatan yang mengambil jam pelajaran yang menyangkut siswa, harus ada surat dispensasi di bawah persetujuan saya. Lagipula, sekarang ini saatnya kalian belajar di kelas. Kalau mau latihan, jangan sampai mengambil jam pelajaran efektif. Saya sudah tekankan hal ini pada semua pengurus OSIS dan ekskul, supaya tidak rapat, atau mengadakan kegiatan yang mengambil jam pelajaran. Dan perlu kamu ingat, saya tidak pernah mengijinkan dispensasi dari jam pertama. Kalau kamu tetap keluar pada saat jam pelajaran, kamu tetap dianggap membolos…”

            “Tapi Bu, kami kan sudah berkorban banyak, masa sekolah tidak mendukung kami sih?!”

            “Heh, kamu tidak pantas bicara soal pengorbanan di bidang seni di hadapan saya! Pengorbanan kamu itu masih belum seberapa, masih kecil sekali. Kamu tahu, saya pernah mengurusi tata rias dan kostum 300 orang untuk pertunjukkan kolosal di Alun-alun kota, hanya dengan biaya sebesar 3 juta rupiah. Dan nyatanya, acara itu bisa berhasil, tentunya dengan berbagai  pengorbanan yang tidak sedikit…” Bu Sri menceritakan pengalamannya.

            Suasana ruang guru saat itu sepi, karena memang sebagian besar guru sedang malaksanakan tugasnya masing-masing, mengajar di kelas. Hanya ada Pak Abdul, guru mapel Agama Islam dan Bu Lis, guru mapel geografi selain dari Bu Sri dan Reza. Pak Abdul yang duduk di dekat mereka berdua, sejak tadi mendengarkan pembicaraan keduanya. Pak Abdul mendekati Reza.

            “Maaf menyela pembicaraan, Bu…” Sela Pak Abdul dengan sopan kepada Bu Sri.

            “Iya Pak, silakan…” jawab Bu Sri ramah.

            “Reza, jadi kemarin kamu tidak masuk pelajaran saya pada jam pertama dan kedua karena latihan untuk lomba vokal grup itu? Saya tidak mengetahuinya, dan saya tanya teman-teman kamu pun, mereka mengatakan tidak tahu. Selain itu, tidak ada selembar pun surat dispensasi di meja guru di kelas kamu. Oleh karena itu, saya catat kamu alfa kemarin.” Terang Pak Abdul kepada Reza.

            “Tapi Pak, saya kan sudah dapat nilai bagus sewaktu ulangan tengah semester kemarin. Lagipula, saya keluar jam pelajaran Bapak kan tidak seterusnya, cuma sekali atau dua kali saja.” Tukas Reza.

            “Apa kamu bilang?! Baik, saya beri kebebasan kamu untuk mengikuti pelajaran saya atau tidak. Kamu berada di kelas, saya tidak peduli, kamu berada di luar kelas pun saya tidak peduli, terserah kamu. Selain itu, saya selaku wali kelas kamu juga tidak enak karena banyak guru yang menanyakan kamu yang ke luar di saat jam pelajaran beliau-beliau itu. Mohon kamu camkan baik-baik.” Nada suara Pak Abdul berubah lebih tinggi dari sebelumnya.

            “Dengar Reza, kamu tidak boleh seenaknya sendiri seperti itu. Kalau kamu tidak merubah sikap, saya berhak menurunkan kamu dari jabatan sebagai Wakil Ketua I OSIS SMA ini. Sebab, kalau dibiarkan, kasihan Pengurus Harian OSIS yang lain…” Tambah Bu Sri tegas.

***

            “De, kamu tahu alasan kenapa dulu si Reza memukul kaca XI IPA 3 sampai pecah?” Pada suatu kesempatan, Fandi siswa kelas XII mantan ketua OSIS bertanya kepada Ade, siswa kelas XI, teman Reza sejak SD .

            “Oh, itu… itu karena Reza ribut dengan salah satu temannya. Kelihatannya sih, masalah cewe..”

            “Hah? Hanya karena masalah pacar, sampai memecahkan kaca kelas?!” Fandi tampak tidak percaya.

            “Ya begitulah Mas…Reza itu orangnya emosional seperti itu. Kalau sudah marah, emosinya susah ia kendalikan.”

            “Uwh… tapi menurutku, Reza itu orang yang unik. Sewaktu mau pergantian pengurus OSIS, aku bertanya kepada tiga besar calon Ketua OSIS. Satu per satu aku tanyai. Calon ketua OSIS yang pertama, Angga, aku tanya, kamu mau jadi ketua OSIS? Angga menjawab, sebenarnya sih agak berat, tapi karena sudah amanat, mau bagaimana lagi. Calon ketua OSIS kedua, si Rikal, juga menjawab kalau dia agak enggan, karena tugas utama pelajar kan, harusnya belajar. Namun begitu aku memberi pertanyaan yang sama kepada Reza, dia langsung menjabat tanganku, dan berkata, baik Mas, saya bersedia. Menurutku, orang-orang seperti Reza lah yang kelak akan mudah meraih kesuksesan…”

            “Benar Mas, aku sudah mengenal jauh kepribadian Reza. Reza itu sebenarnya baik. Dia selalu ramah kepadaku. Dia juga sering bercerita tentang dirinya, tentang masalahnya kepadaku. Dia itu tipe orang yang berpegang teguh pada prinsip,percaya diri, amanah, dan tanggung jawab, tapi entah kenapa banyak pihak yang agaknya membencinya…”

            “Heh? Banyak pihak membencinya?!”

            “Ia Mas, kebanyakan sih kakak-kakak kelas XII…”

            “Oh iya, Reza rajin beribadah?” Fandi menanyakan hal lain, tapi tetap ingin mencari tahu Reza itu seperti apa.

            “Pastinya Mas, dia rajin ibadah. Mas juga sering lihat dia lihat salat  dhuha dan sholat dhuhur di mushala kan?  Bahkan, minimal seminggu sekali, dia miss call malam-malam membangunkan aku untuk salat tahajjud. Berarti dia rajin salat tahajjud juga, Mas.”

            “Wah, hebat juga. Tapi kenapa Reza masih belum bisa mengendalikan emosinya ya…”

            “Hmm, mungkin itu tugas buat dia pribadi sekaligus buat kita, teman-teman yang ada di sekelilingnya untuk sedikit demi sedikit membantunya dalam merubah sikap. Aku rasa, Reza masih bisa menjadi orang yang lebih baik. Dan seperti harapan Mas Fandi juga, dia akan mudah meraih kesuksesan. Makanya, kita memang harus melihat segala sesuatunya dari berbagai sisi Mas, tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Kalau kita hanya melihat dari satu sisi, maka hasilnya adalah kita hanya bisa menilai sedikit saja, dan kebanyakan kita, menilai dan menyimpulkan hal-hal yang negatifnya saja…”

            “Yap, aku setuju..” Jawab Fandi singkat.

  

 

 

13 Responses

  1. mang bner gto y? gmana pmechannya?

  2. itu kan cuma fiksi, banyak hal yang aku tambah-tambahi. . .

    pemecahanya? ak juga bingung, hehe. . .>.<

  3. wah… gitu ya iq….
    tapi aku bingung mau komen apa…. hohoho…. endingnya nggantung ya… aslinya juga nggantung gini gak?

  4. iah, ak agak bingung juga endingnya gmana. . .

    kejadian aslinya ak juga nda tw akhrnya gmana, . .he @.@

  5. nt masih perlu banyak belajar lagi tentang menulis cerpen. jangan dipaksakan kalo memang bukan genre nt, bos :)

    kalo dari content sih, aq ra ngerti kiye fiksi 100% apa cuma fiksi tapi cuma sekian persen tok? tapi,lumayan lah pemilihan topike. cukup menuai kontroversi. hahaha…

    (nt paham lah maksudku…)

  6. ak nggawe cerpen kue, memang tugas bhs indonesia, gelem ra gelem kudu gawe. hehe. . .

    ya, kue dudu 100 persen fiksi sih, akeh kejadian asline. kongkon gurune., “buatlah cerpen berdasarkan kehidupan orang lain. “. . .

    sing penting, makasih sarane ya mas. . . .:)

  7. weh, iq. . .

    web e aq wei cmment oh.. nggo akeh akeh..
    wkwkwkwk…;p

  8. faik! ngelink nang ak!

  9. skalian melu mbl nang ak, hehe

  10. Jah??Jah?jah??jahad emen ah cerpenq dkira nurunT.T

    hehehe. . .kue njaPlak ngarti!asline judul e pr0p0sal,critaq niru2 ska bl0g e uw0ng,kay0ng e jng e fandi apa ya?mbuh kLalen,tp aja ngmg2 ya. . .XD

    o iy s0rry beud p0ling e,ngk0 d0ng h0tsp0tan maning tak ganti^^

  11. haiia,
    ko nama gue kaga ada ya bang?
    aku kan ikut lomba juga!!!!

  12. waduh, dek… ternyata fiksi yah…

    aku gak suka dan benci dengan cerita dusta / fiksi nih…. mending yang bener2 riil aja deh…

    kayaknya masih banyak yang perlu diperbaiki dari ceritmu di atas….

    hadakallaah wa barakallaahufiyka……..

  13. Assalamualaikum, pas baca tokoh”y,, sy sudah bisa nebak nama guru”ya… tp masa toh?bu sri dan pak abdul segalak itu?hemp,,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.