Artikel November

Halaqah Saya

“…di sini saya menemukan mereka. Mereka yang bukan siapa-siapa. Tapi mereka selalu mengucap “Assalamu’alaikum” bila bertemu dengan saya atau dengan ikhwah yang lain. Mereka kemudian saling berjabat tangan, atau bahkan saling berpelukan. Dan itu semua dilakukan dengan tetap mempertahankan senyum terkembang dari wajah mereka.”


“…momen satu minggu sekali itu membuat iman saya menjadi kembali naik setelah terjadi degradasi dalam jangka waktu enam hari…”


Itulah “dunia kecil” yang saya rasakan begitu indah dengan Islam sebagai way of life-nya. Yang mengharuskan saya berwajah ceria dan bersemangat meski masalah dihadapan saya. Saya paksakan diri saya untuk senyum kepada mereka, yang memang pantas mendapat berbagai apresiasi, meski sekedar senyuman. Mereka tak pernah iri kepada saya, tak pernah merasa lebih baik dari siapapun, tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak untuk menyakiti saya. Di antara saya dan mereka hanyalah cinta dan kasih sayang, yang insya Allah berlandaskan cinta kepada Allah swt.


Setiap kami bertemu, selalu, selalu ada senyuman, dan canda. Ketika salah satu di antara kami ada yang mendapat kesulitan, yang lain pasti berusaha membantu dengan sepenuh hati. Ketika salah satu merasakan kegembiraan, yang lain juga akan mencoba dan mengharuskan diri untuk merasakan kegembiraan tersebut. Tak pernah ada permusuhan. Yang ada hanyalah kejujuran, keterbukaan, saling menghargai, tolong-menolong, kerja sama, apresiasi, empati, ketaatan, kesabaran, dan ketaqwaan kepada Allah Swt.


Dengan beranggotakan kurang lebih 12 orang, kami mencoba belajar tentang Islam. Tentu saja dengan seorang Murabbi (ustadz) yang membimbing kami, kami mencoba istiqomah. Mengontrol akhlak kami, mengevaluasi amaliyah yaumiyah kami yang masih jauh dari kesempurnaan. Mencoba menjalankan perintah-perintah Allah yang terkandung dalam Al-Qur’an dan melaksanakan sunnah-sunnah yang dicontohkan Rasulullah Saw.


In its purest sense, a halaqah is a social gathering where one comes to learn more about Islam and Islamic ways. . .

7 Responses

  1. ah kawan… saat kau tak lagi bersama mereka, akankah kau biarkan imanmu terhujam jatuh??

    jadi ingat nasehat seorang teman:
    “saya sering sedih dengan teman2 yang berhalaqoh. mereka seringkali mengandalkan teman2nya untuk saling mengingatkan dsb. tidak jelek memang. tapi, bagaimana kalau kita sendirian? di tengah hutan belantara misalnya? akankah kau andalkan teman2mu? ingat kawan, kita masih punya Tuhan!! masih ada Allah!! bahkan ketika kau pun sendirian!! tak ada siapa2 di sampingmu”

  2. ia mas, insya Allah saya tdk akan sampai pada tingkat terbawah bahkan ke posisi degradasi. Saya pun yakin Allah ada di samping saya.,

    matur nuwun wis ngelingna, dongakna bae. . .

  3. Mon Dieu, Je ne comprendz pas…

    hihihihhi

  4. bagaimana pun kita bukan malaikat yang selalu sempurna imannya.
    halaqoh penting untuk mem-back up ketidaksempurnaan kita.
    dan satu hal yang selalu saya ingat,
    “kejahiliahan yang terorganisir dapat mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir”
    so,, qta btuh organisasi untuk menyelamatkan umat

  5. @fadel: opo iku…

    @sridewiwulandari: setuju wi… :)

  6. halaqah = LQ
    LQ = Lingkaran Qecil bisa jadi LIngkaran Qreative bukan Lingkaran Qonyol.. :p

    ~blogwalking…
    salam kenal!

  7. Hidup ?
    Butuh waktu yang sangat panjang untuk mengerti.
    Butuh kekuatan untuk merenungi.
    Jika ada sedih, disini di luar sana akan ada yang lebih menyakitkan.
    Jika ada secercah senyum tuk orang lain, ada secercah duka di ufuk sana.
    Dengarlah, jalan dakwah masih panjang, percuma suatu ilmu yang tak diamalkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.