Dosennya Terlalu Baik

Saya masih ingat, tanggal 4 Oktober 2009, saya mengirim sms kepada orang tua, adik, dan beberapa teman SMA saya yang kurang lebih isinya seperti ini:
“Assalamu’alaikum. Nyuwun dongane ya, kuliah neng fasilkom tugase akeh nemen, materine ya angel dipahami. Semoga bisa olih IP > 3.5. Suwun ya”

Jari-jari saya seolah tanpa sadar mengetik sms tersebut dan mengirimnya ke banyak orang akibat shock culture di Fasilkom.

Saya pun masih ingat, tanggal 21 November 2009, saya meng-update status saya, kira kira seperti ini:
“Terapkan prinsip yang dulu. pesimis, tidak peduli, dan disorientasi akademis”

Ya, saya sudah tidak peduli lagi dengan berapa nilai ujian, nilai tugas, bahkan saya sudah merasa sangat tidak peduli dengan berapa IP saya nantinya. Yang saya pikirkan saat itu, dan berlanjut seterusnya sampai akhir semester, adalah sekedar menjalani semuanya sebisa saya. Kalau tidak bisa, ya sudah. Kalau ujian jelek, ya tidak masalah. Saya sudah tidak muluk-muluk ambil pusing supaya dapat nilai 90 ke atas di setiap mata kuliah. Nyatanya pun, nilai ujian saya jarang ada yang mencapai 90. Saya juga tidak berandai-andai mendapat IP di atas 3.5. Dapat 3.00 saja saya bersyukur sekali, pikir saya waktu itu.

Saya pikir itu wajar, mengingat mahasiswa semester awal seperti saya belum terbiasa dengan cara belajar mahasiswa yang seharusnya. Saya juga tidak mengada-ada bahwa tugas di Fasilkom sangat banyak, dan susah. Tidak jarang, materi kuliah saja belum paham, mahasiswa sudah diberi tugas yang menerapkan materi tersebut. Beruntung, ada beberapa manusia pilihan Tuhan di Fasilkom yang diberi anugerah kecemerlangan otak, baik hati, dan tidak sombong, yang siap membantu saya ketika saya minta bantuan untuk mengajari saya.

Anehnya, tidak jarang pula beberapa teman saya menganggap sayalah ‘manusia pilihan Tuhan’ tersebut. Padahal, saya sendiri belum mengerti benar apa yang diajarkan dosen di kelas. Otak saya urung nyandak untuk memahami materi-materi pemrograman, sistem digital, atau apalah yang harus saya kuasai di semester pertama. Maka, seringkali dengan sangat tidak enak hati, saya katakan kepada mereka yang minta diajari oleh saya, “Maaf, gue juga belum ngerti, minta ajarin aja sama X, Y, atau Z. mereka kan utusan para dewa. Maaf ya…”

Sistem belajar cramming (kebut semalam) jaman SMA pun masih saya terapkan. Mau bagaimana lagi, tiap hari saya disibukkan dengan endless task, tugas tanpa akhir yang tidak akan selesai meski saya mengerjakannya dari habis maghrib sampai jam 2 malam. Akhirnya materi kuliah baru benar-benar saya coba pahami sehari sebelum ujian. Semalaman penuh sampai pagi menjelang ujian saya isi dengan mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu.

Dan akhirnya, lagi-lagi gusti Allah benar-benar Maha Mengatur Segalanya. Ketika saya buka SIAK-NG untuk melihat IP semester pertama, saya pun benar-benar heran, gumun, wonder, tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Dosennya terlalu baik kali yah? :)

3 Responses

  1. wah faiq luar biasa.
    dosennya yang baik apa kamunya yang pintar?
    hebat IP semesterannya.
    semangat ya!
    Di Antropologi saya pertama kali juga mengalami kebuntuan jalan pikir dan disorientasi akademis.
    Alhamdulillah sekarang dapet beasiswa dan IP munggah.
    Otre!!!!

  2. suwun mas,
    kayonge tah, dosene sing keapiken, hehe
    dongane ben aku bisa olih beasiswa :mrgreen:

  3. lanjutkan le…

    tinggal di atur lagi jam2 e
    ben hasile luwih memuaskan…

    kunjungi balik :)
    laksonoadi.web.id/blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.