Tentang Si-Kecil

Selalu menyenangkan melihat bayi. Tatapannya jujur. Dilahirkan tanpa dosa, ia benar-benar suci. Jika tersenyum atau tertawa, masya Allah yang telah mencipta makhluk mungil ini dengan sebaik-baik bentuk.  Jika ia menangis, selalu ada alasan logis dibalik rengekannya. Serunya bagi orang tua adalah mencoba menerka apa yang ia butuhkan.

Semakin bertumbuh, si-kecil akan belajar banyak hal, yang artinya peluang keinginannya akan semakin banyak. Konsekuensinya, peluang rewel dan menangis juga meningkat. Tidak jarang orang tua yang menjadi tertekan akan hal ini, apalagi jika dalam kondisi kelelahan setelah seharian mencari uang yang alibinya untuk si-kecil juga.

Kami percaya bahwa kunci utama ke-nurut-an si-kecil terletak terutama pada upaya kesolihan kedua orang tuanya: pada takwa dan qoulan sadiida (perkataan yang jujur) Рdengan izin Allah Swt. Jika upaya kesolihan itu sudah dirasa maksimal tetapi si-kecil masih rewel  dan sulit ditenangkan, si-kecil tak pernah salah. Mungkin yang banyak salah dan dosa di masa lalu adalah orang tuanya.

Laa Ilaaha Illa anta, subhanaka inni kuntu minazhzholimiin

(Tiada tuhan selain Engkau, Mahas Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim)

akan terbisik kami bacakan.

Tentang Harapan

Rasa kecewa sangat berpotensi muncul ketika seseorang terlalu berharap pada selain Pencipta. Terlalu berharap pada uang, ia akan kecewa ketika kehilangan. Terlalu berharap pada kawan, ia akan kecewa ketika dikhianati. Terlalu berharap pada diri sendiri, ia akan kecewa ketika realita tak sesuai garis rencana. Sekali lagi, karena uang, kawan, dan dirinya sendiri adalah ciptaan, adalah makhluk.

Maka kedamaian jiwa akan didapat oleh ia yang mengosongkan harapan pada selain-Nya. Al-Fatihah dibaca berulang kali sehari supaya si-hamba hanya berharap pada Allah saja, Tuannya.