Mencari Segenggam LoA

Tahun 2016

LPDP memberikan waktu 1 tahun untuk mencari universitas bagi yang belum mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Setelah dinyatakan lolos beasiswa LPDP, saya pun segera mengirim email ke calon pembimbing di universitas Manchester. Saya mengirim email ke 3 orang professor di sana, tetapi tidak ada satu pun yang merespon.

Karena tidak ada jawaban, saya pun coba mengontak professor di University of Edinburgh. Saat itu professor tersebut membalas email dan meminta saya untuk mendaftar melalui sistem aplikasi universitas. Setelah saya mendapatkan hasil tes IELTS bulan Juni 2016, saya pun apply melalui website resmi universitas Edinburgh untuk program CDT (Center for Doctoral Training) Data Science. Program CDT ini semacam program S2 dan S3 yang terintegrasi, berbeda dengan program S3 biasanya. Lama studinya sekitar 4 tahun.

Waktu itu saya sangat optimis bisa diterima di sana. Skor IELTS yang disyaratkan Edinburgh 6,5 overall dan tidak boleh ada section yang skornya kurang dari 6. Alhamdulillah skor IELTS saya 7 overall dan tidak ada section dengan skor di bawah 6. Rekomendasi dari 2 orang pembimbing juga sudah saya dapatkan. Sponsor beasiswa juga sudah ada.

Akan tetapi, setelah menunggu pengumuman hampir 2 bulan, ternyata saya dinyatakan tidak diterima di Edinburgh. Alasan yang tertera di portal aplikasi saya kurang lebih “Program CDT Data Science ini sangat kompetitif, sehingga kami hanya menerima kandidat dengan kualitas yang tinggi”.

Setelah ditolak itu, saya segera mengirim email ke beberapa professor di berbagai Negara, siapa tahu ada yang khilaf berkenan menerima saya.  Sampai tahap ini, secara keseluruhan saya mengirim email ke professor di universitas-universitas berikut

  1. University of Manchester (ke 3 orang professor)
  2. University of Oxford
  3. ETH Zurich
  4. University of Melbourne
  5. University of Southampton (ke 2 orang professor)
  6. University College London
  7. Australian National University
  8. University of Queensland
  9. University of Edinburgh

Dari 12 email yang saya kirimkan, Alhamdulillah direspon oleh 5 orang professor, sisanya tidak dibalas. Dari 5 orang tersebut, 2 orang professor membalas bahwa mereka akan pensiun dan tidak menerima mahasiswa PhD lagi. 3 professor yang memberi respon positif adalah dari University of Edinburgh, University of Southampton, dan dari ANU.

Saya pun melakukan wawancara dengan professor dari Edinburgh dan Southampton. Sedangkan yang dari ANU, setelah saya kirim dokumen ijazah dan transkrip, tidak ada balasan lagi dari beliau. Mungkin saya ditolak.

Hasilnya, setelah wawancara, professor dari Edinburgh sifatnya masih mengarahkan saya lagi untuk mengontak calon pembimbing lain yang tepat, karena ketidakcocokan topik yang saya minati dengan topik keahlian beliau. Sedangkan professor dari Southampton langsung menyambut baik dan mengirim email bahwa beliau bersedia menjadi pembimbing PhD saya.

Alhamdulillah, saya merasa sangat senang waktu itu. Akhir bulan Desember 2016 akhirnya saya mendapatkan Unconditional Letter of Acceptance dari University of Southampton.

Dengan begini, semua sudah siap. Tinggal urusan pengajuan perpindahan universitas ke LPDP, karena tujuan awal saya adalah University of Manchester.

Studi di UK sepertinya sudah di depan mata. Bahkan berkali-kali saya melihat video berikut ini sambil membayangkan berada di sana, haha..

Qadarullah, pengajuan perpindahan universitas saya ditolak oleh LPDP. Alasannya mungkin karena biaya tution fee Southampton lebih mahal dari Manchester dan peringkat University of Southampton memang di bawah University of Manchester.

Setelah ditolak pindah universitas, saya benar-benar bingung mau email ke siapa lagi.

Tiba-tiba saya teringat pada seorang professor dari Technische Universität Dresden yang sempat mengajar summer school yang pernah saya ikuti pada Juli 2016 yang lalu. Saya pun mengirim email singkat ke beliau. Isinya kurang lebih seperti ini:

Dear Prof. Sebastian,

I am Faiq from Indonesia. I was one of the participants in 8th Summer School on Computational Logic last July in Rayong, Thailand. I expect you still remember me 🙂
I have already gotten a scholarship from Indonesia government to continue my study for doctorate degree. Is there any opportunity to pursue PhD degree under your supervision in Semantic Web related topics?
Thank you in advance.

Best regards,
Faiq Miftakhul Falakh

Itu adalah email tersingkat yang saya kirimkan ke professor untuk meminta kesediaan sebagai pembimbing PhD. Di 12 email sebelumnya, saya selalu menulis panjang lebar sampai sekitar 5 paragraf. Mulai dari perkenalan, motivasi, latar belakang studi, minat riset, ketersediaan beasiswa, CV singkat, dan penutup.

Siapa sangka, email singkat di atas justru dibalas dengan respon positif dari beliau. Setelah 2 kali sesi wawancara dengan beliau dan anggota kab riset beliau, beliau menyatakan kesediaannya menjadi pembimbing PhD saya. Setelah beberapa minggu, Unconditional LoA dari Dresden pun berhasil saya dapatkan. Alhamdulillaaaahhhh….

“Jika satu pintu tertutup, maka yakinlah ada pintu lain yang terbuka selama kita sempurnakan ikhtiar dan meminta kepada Allah”

Proses perpindahan universitas dari Manchester ke TU Dresden pun disetujui dengan cepat, mengingat kuliah di sana tidak ada tuition fee alias gratis.

Mohon doanya dari semua untuk kelancaran studi saya…

 

*sumber gambar : http://az616578.vo.msecnd.net/files/2016/07/18/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: